Log in

Mahasiswa Unimed Ubah Jelantah Jadi Zat Penyatu Air-Minyak

Mahasiswa FMIPA Unimed menunjukkan hasil penelitianya, Sabtu (15/6). Mahasiswa FMIPA Unimed menunjukkan hasil penelitianya, Sabtu (15/6).

Mahasiswa Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan (FMIPA) Universitas Negeri Medan (Unimed) mencoba mengubah minyak bekas atau jelantah menjadi surfaktan, yakni zat penyatu air dan minyak.

"Surfaktan merupakan suatu zat yang memiliki gugus hidropilik dan gugus hidrofobik sehingga dapat menyatukan air dan minyak," kata Ketua Program Kreativitas Mahasiswa dengan bidang kegiatan Penelitian Eksakta (PKM-PE) Unimed Ahmad Ramadhan di Medan, Sabtu (15/6).

Dia menjelaskan, salah satu penyusun kimia minyak bekas ialah gliserol. Zat itu yang nantinya dengan serangkaian proses kimia dapat dijadikan surfaktan. "Produk surfaktan yang telah kami hasilkan, di antaranya ialah Gliserol Stearat, Gliserol Palmitat, dan Gliserol Oleat," ujar dia.

Ia menyebutkan surfaktan memiliki manfaat yang besar, sifatnya yang dapat menyatukan air dan minyak yang banyak digunakan pada industri kosmetik, makanan, obat-obatan, dan tekstil.

Ia mengatakan warga dalam aktivitas keseharian tidak terlepas dari penggunaan minyak goreng, di mana manfaatnya dalam dunia kuliner dapat membuat masakan menjadi lebih nikmat dan bergizi.

"Namun penggunaanya yang berulang-ulang akan mengakibatkan rusaknya minyak sehingga dapat menimbulkan masalah kesehatan dan minyak bekas/jelantah tersebut akhirnya menjadi limbah," kata dia.

PKM-PE Unimed diketuai Ahmad Ramadhan dengan anggota Dian Wardana dan Dinda Prihatini Amne, sedangkan pembimbing Eddyanto.

Spray Antiair
Mahasiswa Unamed juga mencoba membuat spray antiair dari daun pisang yang dinamakan Hydrophobic Spray. "Kegiatan itu merupakan pelaksanaan dari lulus Program Kreativitas Mahasiswa dengan bidang Kegiatan Penelitian Eksakta (PKM-PE)," kata Ketua PKM-PE Unimed Dian Wardana di Medan, Sabtu.

Penelitian Hydrophobic Spray, menurut dia, terinspirasi dari jatuhnya air pada permukaan daun dan akhirnya jatuh. "Fenomena ini terjadi akibat adanya zat lilin dalam setiap daun tumbuhan," ujar Dian.

Ia menyebutkan, adapun tumbuhan yang cukup potensial di Sumatera Utara untuk dijadikan Hydrophobic Spray adalah pisang.
Sehubungan dengan itu, bahan baku yang digunakan berasal dari daun pisang.

"Kami berharap agar Hydrophobic Spray ini nantinya dapat menjadi spray anti air yang simple, praktis, dan mudah dibawa kemanapun, sehingga dapat melindungi diri atau barang tertentu dari kebasahan yang diakibatkan oleh air," jelas dia.

Dia menambahkan, kondisi cuaca yang tidak menentu terkadang tidak sebanding dengan persiapan.Seperti saat kondisi hujan, orang-orang berupaya untuk melindungi dirinya atau barang pribadinya dari air.

Namun tidak jarang seseorang tidak membawa pelindung hujan seperti payung atau jas hujan akibat bentuknya yang cukup besar. "Warga saat ini lebih memilih hal-hal yang bersifat simple, praktis dan mudah dibawa kemana-kemana," katanya.

Tim PKM-PE Unimed diketuai oleh Dian Wardana yang beranggotakan Ahmad Ramadhan dan Rizka Alfi Fadhilah, serta pembimbing Drs. Eddyanto, PhD. (ANSU)

22°C

Medan, Sumatera Utara

Cloudy

Humidity: 95%

Wind: 11.27 km/h

  • 04 Jan 2019 29°C 21°C
  • 05 Jan 2019 31°C 21°C

Banner 468 x 60 px