Log in

Polisi Ringkus Sindikat Penipuan ‘Anak Kecelakaan’


Jakarta – andalas Unit 2 Subdit Resmob Direktorat Reserse Kriminal Umum (Ditreskrimum) Polda Metro Jaya meringkus sindikat pelaku penipuan dengan modus anak kecelakaan. Sindikat telah melancarkan aksinya sejak 2009.

Kabid Humas Polda Metro Jaya, Kombes Argo Yuwono mengatakan, sindikat penipuan terdiri dari tiga pelaku. Masing-masing berinisial A, M, dan AZ. Argo menyebut, para pelaku melakukan aksinya dengan cara menghubungi orang tua murid dan memberitahukan bahwa anak korban mengalami kecelakaan.

Sebelum menelepon orang tua murid, kata dia, pelaku A terlebih dahulu menghubungi dan menipu pihak sekolah untuk mencari data murid yang akan menjadi sasaran penipuan. Namun, Argo tidak merinci bagaimana cara pelaku A menipu pihak sekolah untuk mendapatkan nomor telepon orang tua murid tersebut.

Sementara itu, sambung Argo, pelaku M berperan sebagai kapten dan berpura-pura menjadi seseorang dengan profesi, seperti dokter, untuk meyakinkan pihak orang tua murid. Bahkan, kata dia, pelaku M dapat menirukan suara perempuan untuk melancarkan aksinya.

"Tersangka M, kadang berperan jadi dokter, guru, atau jaga apoteker. Setelah dia mendapatkan identitas atau data orang tua murid, dia akan menelepon (korban) dan berpura-pura bahwa anak korban di sekolah mengalami kecelakaan," papar Argo di Mapolda Metro Jaya, Jumat (19/7).

Setelah korban yakin dengan pernyataan pelaku yang awalnya menyamar sebagai guru, ia akan mengarahkan korban untuk menghubungi pihak rumah sakit atau dokter sesuai nomor telepon yang telah ia siapkan. Pelaku M pun kemudian menyamar sebagai dokter.

Tidak sampai di situ, pelaku M juga akan meminta korban kembali menghubungi pihak apotek yang juga masih merupakan modus penipuannya. Tujuannya untuk menebus obat maupun alat operasi, tergantung dari cerita bohong mengenai kecelakaan yang dibuat oleh pelaku M.

Setelah korban menelepon apotek sesuai arahan pelaku, korban akan diminta mentransfer sejumlah uang ke rekening pelaku dalam waktu lima menit. Sementara itu, pelaku AZ akan memastikan korban sudah mentransfer uang yang diminta atau belum. Jika korban belum mentransfer uang, maka pelaku AZ akan menelepon korban kembali.

"Tapi setelah korban mentransfer sejumlah uang tersebut, selanjutnya korban melakukan pengecekan ke sekolah anak korban, diketahui bahwa anak tidak kenapa-napa," ujar Argo. Polisi menangkap para pelaku di sebuah apartemen di kawasan Jakarta Utara. Ketiganya diketahui berasal dari Sidrap, Sulawesi Selatan. Adapun ketiga pelaku ini selalu beraksi satu kali dalam seminggu.

"Seminggu sekali minimal melakukan kegiatan ini. (Uang yang diminta) sekitar Rp 17-40an juta, tergantung kondisi. Tidak terlalu mahal supaya korban tidak curiga," imbuh Argo.
"Mereka tinggal di apartemen di Jakut bertiga di sana. Dia punya berbagai handphone untuk menipu orang," kata Argo.

Akibat perbuatannya, para pelaku dikenai Pasal 378 KUHP, Pasal 4, 5 juncto Pasal 2 ayat (1) huruf R atau Z UU RI Nomor 8 Tahun 2010 tentang Pencegahan dan Pemberantasan Tindak Pidana Pencucian Uang. Ketiga tersangka itu terancam hukuman 7 tahun penjara. (ROL)

22°C

Medan, Sumatera Utara

Cloudy

Humidity: 95%

Wind: 11.27 km/h

  • 04 Jan 2019 29°C 21°C
  • 05 Jan 2019 31°C 21°C

Banner 468 x 60 px