Log in

Bersiul, Bentuk Pelecehan Seksual Terbanyak Dialami Wanita


Hidup di negara patriarki terkadang memaksa perempuan bersikap pasif saat mengalami pelecehan seksual di tempat umum. Atau, pelecehan 'langgeng' terjadi karena minimnya pengetahuan tentang tindakan tersebut.

Aktivis dari Lentera Sintas Indonesia, Rastra Yasland, dan sejumlah aktivis melakukan survei siapa saja yang sering mendapat pelecehan seksual. Hasilnya, perempuan mendapat pengalaman paling banyak mendapat pelecehan seksual dengan presentase 64 persen, laki-laki sebesar 11 persen.

"Kita bekerja sama dengan Change.org ada total 62.224 responden. Hasilnya 64 persen atau 38.766 perempuan mengalami pelecehan, dan 11 persen (23.403) laki-laki," ujar Rastra, Jakarta, Rabu (17/7).

Porsi besar terhadap perempuan, menurut Rastra, sudah tidak mengejutkan lagi. Namun tetap, hal ini seharusnya menjadi peringatan bagi perempuan agar terus aktif menyuarakan antipelecehan.

Pertanyaannya, apakah perempuan tahu bentuk-bentuk pelecehan seksual? Jika dilihat dari jumlah persentase hasil survei, Rastra meyakini mereka tahu dan sedikitnya paham bentuk-bentuk pelecehan.

Contohnya, sering didapati kelompok laki-laki sedang asyik duduk kemudian bersiul dan melontarkan kata-kata candaan kepada perempuan yang lewat. "Dalam survei, (bentuk pelecehan terbanyak terhadap perempuan), siulan dengan persentase 18 persen," ujarnya.

Bentuk pelecehan kedua yang sering diterima perempuan adalah komentar tentang bentuk tubuh 12 persen, selanjutnya kontak fisik seperti disentuh tubuh 10 persen, kemudian flirting/main mata 9 persen, dan komentar seksis 7 persen.

"Mendapat siulan, responden kebanyakan merasa tidak nyaman, merasa direndahkan, ingin marah," imbuhnya. Siulan terhadap perempuan bukan karena cara berpakaian mereka. Survei yang ia dan empat organisasi lainnya menunjukan bahwa perempuan berpakaian provokatif tidak melulu menjadi 'sumber' terjadinya pelecehan.

"Pakaian sekolah kan sopan, tapi di sini ada responden yang mengatakan seperti itu (mendapat pelecehan)," tukasnya. Sementara itu, meski persentase laki-laki mengalami pelecehan sedikit. Rastra tetap menyoroti, perlakuan tidak menyenangkan itu juga terjadi di kaum Adam.

Kebanyakan, bentuk pelecehan seksual kepada laki-laki adalah komentar rasis dengan persentase 15 persen, disusul komentar atas tubuh dan sentuhan tubuh sebesar 13 persen, diraba atau dicengkeram sebesar 11 persen, dan komentar seksis 7 persen.

Oleh sebab itu, berkaca dari kasus Baiq Nuril, Rastra juga mendesak agar Rancangan Undang-Undang Penghapusan Kekerasan Seksual (RUU P-KS) segera disahkan. Sebab, menurutnya pengalaman pelecehan berdampak jangka panjang.

"Ini dampak jangka panjang insidious trauma," tandasnya. Menjadi korban pelecehan bukanlah aib, perlu ada dukungan dari sekelompok masyarakat agar kejadian nahas seperti itu tidak terulang kepada perempuan atau laki-laki lainnya. Itu pula alasan pentingnya peran bystander bagi korban pelecehan. (MDC)

22°C

Medan, Sumatera Utara

Cloudy

Humidity: 95%

Wind: 11.27 km/h

  • 04 Jan 2019 29°C 21°C
  • 05 Jan 2019 31°C 21°C

Banner 468 x 60 px