Log in

Demokrasi Butuh Oposisi


Wakil Ketua Tim Kampanye Nasional (TKN), Arsul Sani mengatakan, sembilan partai politik pengusung Joko Widodo-Ma'ruf Amin sudah memiliki keterikatan satu sama lain. "Kalau dari sisi parpol koalisi sendiri, persoalannya adalah, ini koalisi sudah terbentuk selama satu tahun lebih. Chemistry kami sudah ada,"ujar Arsul di Rumah Cemara, Menteng, Jakarta Pusat, kemarin.

Arsul menyebutkan, meskipun mereka berbeda-beda, kadang-kadang ada juga kita bertengkarnya. PPP dengan PSI, PSI sama Golkar. "Yang selalu jadi naughty boy kan PSI. Tapi kami semua sudah memiliki chemistry satu sama lain,"kata Arsul Sani.

Pernyataan yang disampaikan Arsul Sani tersebut jika dimaknai secara lugas, sesungguhnya merupakan sebuah pengakuan sekaligus penegasan, bahwa koalisi pendukung Jokowi-Ma'ruf Amin, tidak lagi membutuhkan kehadiran partai-partai lain. Sebab, sembilan partai pun sebenarnya sudah cukup banyak.

Arsul Sani merasa perlu menekankan hal itu, karena belakangan ini, terdapat dua partai (Demokrat dan PAN) yang kelihatannya berkeinginan untuk merapat ke kubu koalisi Jokowi-Ma'ruf. Sebuah keinginan dan manuver yang sejatinya sah dan wajar-wajar dalam wilayah politik.

Namun dari segi fatsun politik, manuver kedua elite parpol ini (Zulkifli Hasan dan SBY) dinilai kurang tepat dan strategis. Pasalnya koalisi mereka (BPN) masih mengajukan gugatan ke Mahkamah Konsitusi (MK) seputar dugaan kecurangan dalam pelaksanaan Pemilu Presiden. Jika hendak berpaling, seharusnya menunggu putusan MK dulu.

Lagi pula sebagaimana sinyal yang dengan tegas telah disampaikan Arsul, koalisi mereka sesungguhnya sudah tidak lagi membutuhkan anggota baru. Sebab, penambahan anggota koalisi, bisa berdampak negatif kepada mereka. Yaitu terjadinya pengurangan jatah kursi atau jatah yang didapat relatif sama, padahal parpol baru ini tidak ikut 'berkeringat'.

Karena itu akan jauh lebih baik dan terhormat, jika Partai Demokrat dan PAN tetap berada di gerbong koalisi Prabowo-Sandi, apa pun putusan MK nanti. Hal ini diyakini juga sejalan dengan keinginan mayoritas kader partai mereka, utamanya PAN, yang terlihat sudah mulai terlihat aroma penolakan terhadap manuver dilakukan Zulkifli Hasan.

Konon, sudah mulai dihembuskan di internal partai berlambang matahari itu, desakan untuk melakukan percepatan KOngres Luar Biasa (KLB), untuk mencari figur baru sebagai ketua umum, untuk menggantikan besan Amien Rais, yang dianggap inkonsisten dan terlalu cepat berbalik gagang tersebut.

Di sisi lain, perlu disadari bersama, bahwa demokrasi akan bertumbuh dengan baik di negara kita, jika terdapat kelompok oposisi yang kuat sebagai kelompok penyeimbang (check and balances). Dengan kata lain, kita ingin menegaskan, demokrasi juga membutuhkan oposisi. Jadi, sudah cukup pas, jika Gerindra, PKS, PAN dan Demokrat, tetap berada di luar pemerintahan.

Keberadaan kelompok oposisi yang kuat akan mendorong pihak penguasa bersikap lebih hati-hati dan tidak bertindak semena-mena dalam menjalankan roda pemerintahannya. Berada di luar pemerintahan juga tetap terhormat, bahkan akan memberikan imej positif bagi rakyat, jika para elite dan kader partai konsisten memerjuangkan aspirasi dan kepentingan rakyat. Monggo... (**)

22°C

Medan, Sumatera Utara

Cloudy

Humidity: 95%

Wind: 11.27 km/h

  • 04 Jan 2019 29°C 21°C
  • 05 Jan 2019 31°C 21°C

Banner 468 x 60 px