Log in

Dosen Asing Yes, Rektor No !


Asosiasi Dosen Indonesia (ADI) angkat bicara terkait wacana Menristekdikti Mohamad Nasir yang ingin mendatangkan orang asing untuk menjadi dosen dan rektor di Perguruan Tinggi (PT) di Indonesia. Ketua Umum DPP ADI, Dino Patti Djalal mengimbau kepada pemerintah untuk memperhitungkan kompetensi dosen dan rektor asing tersebut agar bisa memperkaya khazanah pengetahuan bangsa Indonesia.

“Pemerintah pasti sangat memperhitungkan kemampuan dan kompetensi masing-masing perguruan tinggi, rektor dan dosennya. Kita tidak perlu alergi terhadap rektor dan dosen asing tersebut. Kita senang melihat ilmuwan Indonesia mengajar di luar negeri, demikian pula kita perlu menghargai dosen dari luar ilmu yang bisa memperkaya khasanah pengetahuan bangsa kita,”kata Dino dalam keterangan tertulis, kemarin.

Ia juga mengimbau dosen internasional yang diundang untuk mengajar di Indonesia harus yang berkualitas dan dapat memberi nilai tambah (value added) bagi mahasiswa dan dapat memperluas wawasan para dosen. “Jangan asal comot dari luar negeri. Kita juga memerlukan dosen internasional yang ahli dalam ilmu-ilmu yang masih baru di Indonesia dan penting bagi masa depan kita, misalnya artificial intelligence, big data, quantum computing, cyber dan lain sebagainya,”katanya.

Apa yang dikemukakan Dino Patti Djalal di atas tidak seluruhnya benar. Dia benar soal pentingnya dosen dan rektor asing yang berkualitas. Tetapi, dia juga seharusnya memberi penagasan, Indonesia membutuhkan keberadaan rektor asing untuk memimpin perguruan tinggi di Indonesia. Dosen asing tidak perlu dipersoalkan, karena sejak doeloe, sudah banyak dosen asing mengajar di negara kita.

Nah, berkaitan dengan rektor asing, sekali lagi kita nyatakan, Indonesia tidak membutuhkannya. Sebab, di negara kita sangat banyak doktor lulusan luar negeri yang sangat hebat-hebat serta profesor yang cukup mumpuni dan kompetensinya tidak kalah dengan para doktor dan profesor berasal dari kampus di luar negeri.

Para doktor lulusan Universitas Indonesia, Universitas Gajah Mada, Insititut Teknologi Bandung, dan sejumlah perguruan tinggi lainnya tidak perlu lagi diragukan kualitasnya. Beberapa di antara mereka bahkan ada yang meraih gelar doktor dari luar negeri dan kembali mengabdi di almamaternya masing-masing. Jadi, kualitas keilmuan mereka benar-benar tak perlu diragukan.

Permasalahan lain yang mungkin tidak pernah dipikirkan Menrisdikti Mohamad Nasir, terkait rencananya mendatangkan orang asing menjadi rektor di perguruan tinggi kita adalah kendala bahasa yang akan mencuat ke permukaan. Misalnya rektor asing diberi kepercayaan memimpin di Universitas Negeri Medan. Dipastikan akan muncul kendala dalam hal komunikasi antara rektor dengan para wakil rektor lainnya.

Sebab, rektor asing itu dipastikan akan menggunakan Bahasa Inggris dalam percakapan sehari-hari. Sementara para wakil rektor dan jajaran civitas academica di kampus kita, belum semuanya bisa berbahasa Inggris dengan baik dan benar. Kendala serupa akan terjadi saat rektor memimpin wisuda, tentu pidatonya akan menggunakan Bahasa Inggris, yang tidak akan dimengerti para wisudawan/ti dan orangtuanya.

Dalam konteks ini, kita ingin mengingatkan, yang dibutuhkan di negara kita (perguruan tinggi), bukanlah kehadiran rektor asing, melainkan dosen asing yang diharapkan bisa meningkatkan motivasi di kalangan dosen dan mahasiswa, juga para rektor untuk lebih giat dalam mempelajari sekaligus menguasai Bahasa Inggris.

Sangat naif memang, lulusan S2 dan S3 bertabur di negeri kita, tapi hanya segelintir yang mahir berbahasa Inggris. Karena itu, yang perlu dilakukan Kemenristekdikti lebih giat mengirim dosen kita belajar ke luar negeri dan memperketat seleksi menjadi rektor, bukan malah mendatangkan rektor asing, yang menyebabkan para doktor dan profesor kita menjadi lesu darah. Dosen asing yes, rektor no...!(**)

22°C

Medan, Sumatera Utara

Cloudy

Humidity: 95%

Wind: 11.27 km/h

  • 04 Jan 2019 29°C 21°C
  • 05 Jan 2019 31°C 21°C

Banner 468 x 60 px