Log in

Ketika Hoaks Semakin Mentradisi


Daftar nama menteri kabinet Joko Widodo-Ma'ruf Amin kembali beredar luas di media sosial dan aplikasi berbagi pesan. Tim Kampanye Nasional Jokowi-Ma'ruf memastikan daftar tersebut hoaks. Kali ini daftar nama tersebut dalam bentuk dokumen risalah rapat yang mencantumkan lambang Garuda di bagian kop surat.

Di bawahnya terdapat tulisan 'Koalisi Indonesia Maju Republik Indonesia. Risalah Rapat Pengangkatan Menteri Pembantu Presiden dalam Kabinet Kerja Jilid II Periode 2019-2024'. Terdapat pula tulisan bahwa rapat itu diagendakan pada Minggu, 14 Juli 2019, di Ruang Rapat Sentul City International Convention Center, Bogor, Jawa Barat, seusai acara.

Disebutkan juga bahwa rapat dipimpin Jokowi, Ma'ruf Amin, ketua umum dan sekjen partai koalisi, serta Ketua TKN Erick Thohir. Lalu di bawahnya ada daftar lengkap nama menteri kabinet pemerintahan Jokowi-Ma'ruf. Namun Erick Thohir memastikan dokumen tersebut tidak benar. "Hoaks,"kata Erick saat dikonfirmasi, Rabu.

Penegasan Erick Thohir bahwa dokumen yang beredar itu hoaks sudah pasti benar adanya. Namun, satu hal yang pasti penyebaran hoaks kelihatannya sudah tidak mungkin dibendung. Hoaks sudah semakin mentradisi dan seolah-solah sudah menjadi bahagian dari kebutuhan masyarakat. Karena itu, para penghasil dan penyebar hoaks tetap akan berkibar, selama masih ada masyarakat yang percaya dan suka dengan berita-berita hoaks tersebut.

Maraknya penyebaran hoaks terjadi menjelang dan saat tahapan Pemilu dan Pilpres 2019 lalu. Berbagai berita negatif seputar capres Joko Widodo dan cawapres KH Ma'ruf Amin disebarluaskan, baik melalui media sosial, grup WA, youtube dan berbagai media lainnya. Hal serupa tentunya juga melanda pasangan capres Prabowo Subianto dan Sandiaga Salahuddin Uno.

Ketika berita hoaks itu disebarluaskan, sudah pasti banyak orang yang memercayainya. Agaknya hal ini sejalan dengan idiom yang selama ini berkembang di kalangan pegiat jurnalisme, bahwa bad news is good news, yaitu kabar buruk (seseorang atau sekelompok orang) merupakan berita yang baik, dan akan banyak dibaca khalayak.

Karena itu hal-hal atau cerita buruk mengenai seseorang, terutama public figure, walaupun tidak mengandung kebenaran (hoaks), jika sudah sering dimunculkan di media sosial, akan dianggap benar oleh masyarakat. Pasalnya, banyak orang menyukai kisah-kisah atau cerita bombastis menyangkut kehidupan seorang pejabat atau selebriti, walaupun belum tentu mengandung kebenaran.

Nah, terkait dengan penyebaran berita seputar nama-nama anggota kabinet tersebut, yang dinyatakan Erick Thohir sebagai hoaks. Memang benar apa yang ditegaskan Erick tersebut, bahwa berita itu hoaks, karena belum tentu nama-nama yang disebut di dalam daftar itu, akan benar-benar diumumkan sebagai anggota kabinet.

Namun, ketika nama-nama anggota kabinet beredar di tengah masyarakat melalui media sosial, sesungguhnya tidak bisa disebut hoaks apabila di dalamnya tidak terdapat lambang Garuda di bagian kop surat. Dengan kata lain, masyarakat sah-sah saja memprediksi, siapa saja yang dianggap bakal dipilih Presiden Jokowi menjadi pembantunya.

Sedangkan, terkait dengan fakta bahwa hoaks semakin mentradisi, akhirnya terpulang kepada masyarakat sendiri. Pemerintah dipastikan tidak akan mampu mengatasinya. Untuk itu, masyarakat harus mampu mengembangkan kemampuan self-censorship di dalam diri masing-masing untuk menyiasati maraknya berita hoaks tersebut.(**)

22°C

Medan, Sumatera Utara

Cloudy

Humidity: 95%

Wind: 11.27 km/h

  • 04 Jan 2019 29°C 21°C
  • 05 Jan 2019 31°C 21°C

Banner 468 x 60 px