Log in

Mencermati Rekrutmen Menteri


Bupati Minahasa Selatan Christiany Eugenia Tetty Paruntu batal jadi calon menteri Joko Widodo. Diam-diam, politikus Golkar itu sempat ditemui oleh Ketum Partai Golkar Airlangga Hartarto. Tetty tiba di Istana Kepresidenan dengan berkemeja putih. Kostum khas Jokowi ini juga dipakai calon-calon menteri lain yang dipanggil Jokowi.

Deputi Protokol Pers dan Media Sekretariat Presiden Bey Machmudin mengatakan Tetty adalah calon menteri usulan Partai Golkar. Saat sudah di dalam Istana, Tetty bertemu dengan Ketum Golkar Airlangga Hartarto."Karena itu kan usulan dari Partai Golkar. Tapi di dalam bertemu dulu dengan Pak Airlangga. Jadi tidak bertemu dengan Pak Presiden," kata Bey di Istana Kepresidenan, kemarin.

Dengan demikian, Bey mengatakan, Tetty batal jadi calon menteri Jokowi. "Ya karena tidak bertemu ya tidak jadi (calon menteri)," sambungnya. Sekitar pukul 13.40 WIB tadi, Airlangga memang tampak muncul di Istana. Padahal dia tidak terlihat datang dari pintu yang sama dengan calon menteri lainnya.

Sejak Senin hingga kemarin, banyak orang terpaksa memelototi breaking news televisi swasta yang menyiarkan kehadiran calon-calon menteri memenuhi undangan Presiden Joko Widodo ke Istana Negara. Namun, sayangnya ada juga yang sudah datang ke Istana Negara, ternyata gagal menjadi menteri, seperti dialami Tetty Paruntu.

Dalam hal ini, kita hendak menyatakan, pola rekrutmen menteri yang dilakukan Presiden Joko Widodo juga perlu dikritisi. Sebab, pemanggilan yang dilakukan dan disiarkan televisi telah menyebabkan hilangnya faktor kerahasiaan (surprise) dalam pengangkatan para menteri tersebut. Soalnya, sebelum diumumkan secara resmi, sudah diketahui siapa saja yang bakal dipilih dan ditetapkan.

Misalnya dari sejumlah nama yang sudah memenuhi undangan presiden seperti Prabowo Subianto, Edhy Prabowo, Mahfud MD, Tito Karnavian, Airlangga Hartarto, Erick Thohir, Wishnutama, Pratikno, Fajroel Rachman, Nico Harjanto, Sri Mulyani, Agus Gumiwang, Syahrul Yasin Limpo, Siti Nurbaya Bakar, Juliari P Batubara, Suharso Monoarfa, Fahrul Razi, Zainuddin Amali, Ida Fauziah, Abdul Halim Iskandar dan lainnya.

Bergabungnya Partai Gerindra ke dalam koalisi pemerintah memang tidak lagi mengejutkan, karena sejak beberapa pekan terakhir, sudah bisa ditebak. Namun, masuknya nama Prabowo Subianto ke dalam kabinet, tetaplah layak dianggap sebagai hal yang aneh dan patut dipertanyakan. Dianggap aneh, karena Prabowo merupakan rival utama Jokowi dalam Pilpres 2019 lalu.

Masuknya Partai Gerindra ke dalam kabinet, mungkin masih bisa dipahami. Tetapi, jika figur yang ditempatkan Gerindra menduduki jatah menteri itu langsung ditempati Prabowo, sangat wajar menimbulkan pertanyaan di berbagai kalangan. Bagaimana mungkin, seorang calon presiden (yang kalah), justru bisa diberi kesempatan menjadi menteri.

Apa yang terjadi di negara kita ini, sepertinya tidak pernah terjadi di negara lain. Di Amerika Serikat, saat Barack Obama memberi Hillary Clinton jabatan sebagai Menteri Luar Negeri, rivalitas antara keduanya hanya di tingkat konvensi, bukan di arena Pilpres. Lagi pula keduanya juga berasal dari partai yang sama (Demokrat).

Dalam konteks ini, mau tak mau, suka atau tidak suka, acungan jempol layak diberikan kepada Ketua Umum DPP NasDem, Surya Paloh. Betapa tidak, partainya sudah dua kali memberikan dukungan total kepada Jokowi dalam pencalonannya sebagai presiden (2014 dan 2019), tapi dia tak berambisi duduk di kabinet dan tidak memaksakan putranya yang kini duduk di DPR-RI (Prananda Paloh) menduduki jabatan menteri. Terbukti, tanpa menyandang jabatan menteri pun, Surya Paloh tetap berkharisma dan bisa memberikan kontribusi untuk kepentingan bangsa.(**)

22°C

Medan, Sumatera Utara

Cloudy

Humidity: 95%

Wind: 11.27 km/h

  • 04 Jan 2019 29°C 21°C
  • 05 Jan 2019 31°C 21°C

Banner 468 x 60 px