Logo
Print this page

Partai Golkar Memanas Lagi


Ketua DPP Partai Golkar Andi Sinulingga memprediksi kontestasi pemilihan ketua umum (ketum) Partai Golkar 2019-2024 akan memanas. Bukan tanpa sebab, sebab hingga kini baru ada dua nama kandidat yang ramai diperbincangkan untuk maju sebagai calon ketua umum Golkar.

Namun, Andi tidak setuju apabila dalam kontestasi ini masing-masing kandidat saling menyerang secara personal, bukan menunjukkan visi dan misi untuk membangun partai berlambang beringin tersebut. "Karena dua calon membuat memanas dan kita saling hajar sekarang panas orang mengatakannya dinamika itu bagus, tapi kalau destruktif itu bukan dinamika lagi,"katanya, kemarin.

Tanda-tanda bahwa Munas Partai Golkar akan kembali memanas, agaknya bisa dilihat dari adanya saling klaim dukungan antara kedua kubu. Masing-masing kubu sama-sama menyebut telah mengantongi dukungan 400 DPD I dan DPD II. Kalau keduanya sama-sama didukung 400, berarti terdapat 800 DPD I dan II. Padahal, faktanya hanya terdapat 34 DPD I dan 514 DPD II.

Melihat dua bakal kandidat yang bersaing, yaitu kandidat petahana Airlangga Hartarto dan sang penantang, Bambang Soesatyo (Bamsoet), wajar jika banyak kalangan menilai, Munas Partai Golkar kali ini akan kembali memanas. Pasalnya, kedua nama ini sama-sama memiliki pendukung dan basis yang cukup kuat di grass-root partai beringin itu.

Posisi Airlangga Hartarto sebagai petahana memang terlihat sedikit lebih kuat. Sebab, dia juga lebih diuntungkan, karena hingga kini masih tercatat sebagai menteri di kabinet Jokowi-JK dan setiap saat bisa menjalin hubungan/ komunikasi dengan Presiden Joko Widodo. Soalnya, sejumlah kalangan memastikan, faktor restu Jokowi akan sangat banyak menentukan siapa yang akan memimpin Golkar, berikutnya.

Namun, keberadaan Bamsoet sebagai Ketua DPR-RI juga cukup kuat, dan selama ini mantan wartawan dan aktivis HMI ini juga dikenal lumayan dekat dan memiliki hubungan sangat baik dengan Presiden Joko Widodo. Karenanya, jika faktor dukungan Presiden Jokowi dijadikan sebagai penentu, kelihatannya hal itu kurang beralasan. Sebab, siapa pun di antara kedua kandidat ini yang menjadi orang nomor satu di partai berlambang beringin itu, tidak akan menjadi permasalahan bagi Jokowi.

Mengacu pada posisi keduanya yang sama-sama dekat dan tidak bermasalah dengan Jokowi, pada akhirnya yang lebih menentukan adalah suara atau dukungan dari stakeholder Partai Golkar sendiri. Justru dukungan tokoh-tokoh senior Golkar, seperti Jusuf Kalla, Akbar Tanjung, Aburizal Bakrie, akan jauh lebih memengaruhi peta persaingan di Munas nanti.

Bahkan jika dicermati lebih jauh, Bamsoet juga memiliki nilai plus tersendiri, karena selama ini dia juga sudah banyak terlibat dalam sejumlah dinamika politik yang terjadi di internal Partai Golkar. Termasuk di dalamnya dinamika yang mencuat sebagai konsekuensi dari terjadinya faksi-faksi di tubuh partai pasca perhelatan Munas.

Sebaliknya kepemimpinan Airlangga Hartarto sendiri patut dipersoalkan para kader, karena gagal meningkatkan perolehan suara partai dibanding Pileg sebelumnya yang masih mampu mendapatkan 18.432.312 pemilih (14,75 persen). Sementara pada 2019 hanya meraih 17.229.789 (12,31 persen) alias kalah tipis dengan Partai Gerindra yang meraih 12,57 persen.

Berhasil tidaknya seseorang tentu harus jelas tolok ukur penilaiannya. Nah, hasil pileg tahun ini memperlihatkan fakta, raihan suara Partai Golkar mengalami penurunan. Mengacu kepada bukti-bukti ini, sangat wajar jika kubu pendukung Bamsoet merasa perlu dilakukan pergantian kepemimpinan di tubuh partai besutan Orde Baru tersebut. Begitulah...(**)

PT. STAR MEDIA INTERNUSA
JL. TENGKU AMIR HAMZAH KOMP RUKO GRIYA RIATUR INDAH 182, 184, 186 - MEDAN - 20124 - SUMATERA UTARA - INDONESIA.
Email : berita.andalas@googlemail.com © 2013 - 2014 harianandalas.com - All Rights Reserved.
IKLAN ONLINE | REDAKSI

http://kpkpos.com http://bursaandalas.com http://harianandalas.com http://harianandalas.com http://harianandalas.com