Log in

Persoalan Toleransi Sudah Basi


Tahukah Anda, bahwa saat ini Indonesia jadi rujukan soal toleransi? Adalah pemerintah Australia melalui Duta Besarnya di Indonesia, Gary Francis Quinlan menyampaikan minat negaranya untuk belajar terhadap toleransi beragama di Indonesia. Kepada media disela acara Dialog Lintas Agama Indonesia-Australia di Bandung, Jawa Barat, beberapa waktu lalu.

Gary mengatakan, seperti halnya Indonesia, Australia adalah negara dengan masyarakat yang beragam. "Kami (Australia-red) ingin belajar dari kalian (Indonesia-red) dan bagaimana bisa mengerti sesama masyarakat,"katanya.

Toleransi yang berjalan baik di Indonesia, memang sempat diwarnai sejumlah kasus tindakan intoleran. Meski demikian, rumusan nilai-nilai yang terkandung dalam Pancasila sebagai dasar negara, masih terjaga dan terus dipertahankan.

Tidak cuma Australia. Banyak negara-negara lain di dunia selalu memuji sekaligus ingin belajar dari Indonesia, seputar kiat dan cara menjaga toleransi di tengah keberagaman etnis, golongan dan agama. Faktanya, Indonesia memang sudah sangat lama mampu hidup rukun dan damai di tengah kemajemukan tersebut.

Karenanya menjadi sangat naif dan aneh, jika belakangan ini kembali muncul tindakan-tindakan yang terkesan intoleran dan adanya upaya membenturkan antarumat beragama di tengah kokohnya soliditas kerukunan di antara sesama anak bangsa. Sering dimunculkan kesan, seolah-olah terdapat pertentangan yang hebat antarumat beragama. Padahal, fakta di lapangan adem-adem saja.

Dengan kata lain, kita hendak menegaskan di sini, pembahasan menyangkut toleransi bisa disebut sebagai sesuatu yang sudah basi dan merupakan sebuah langkah mundur (set-back). Pasalnya, sudah berpuluh-puluh tahun, rakyat Indonesia hidup damai di tengah kebhinekaan. Lalu, mengapa kini muncul kesan, seolah ada kegaduhan di antara umat beragama ?

Agaknya kondisi yang mencuat ke permukaan belakangan ini, tidak terlepas dari masih belum tuntasnya side effect negative dari rivalitas yang terjadi di Pilkada DKI Jakarta dan Pilpres 2019 yang lalu. Sampai saat ini masih saja terdapat kegaduhan di kalangan pihak-pihak yang bersaing, dan kegaduhan itu lazimnya tetap menghangat di media sosial.

Lihatlah misalnya kasus yang berkaitan dengan Ustaz Abdul Somad yang mencuat beberapa hari belakangan ini. Ustaz kondang ini sudah menegaskan, bahwa ceramah yang disampaikannya itu merupakan konsumsi internal (sesama umat Islam) dan disampaikannya pada tiga tahun yang lalu. Pertanyaannya, mengapa sekarang baru dipersoalkan?

Kita sependapat, bahwa ceramah ustaz seharusnya juga menghormati keyakinan umat beragama lain. Tetapi, dalam konteks ceramah Ustaz Abdul Somad yang disampaikan hanya di kalangan umat Islam dan sifatnya tertutup (untuk kalangan sendiri), rasanya kurang bijaksana jika hal itu kemudian dibesar-besarkan dan dilaporkan ke pihak kepolisian.

Sebagaimana disebutkan di atas, Indonesia sering dijadikan rujukan berkaitan dengan keberhasilan memelihara toleransi antarumat beragama. Faktanya, memang benar demikian. Bahwa, sejalan dengan way of life kita sebagai sebuah bangsa yaitu Pancasila, perbedaan agama, suku dan golongan, tidak sampai membuat bangsa kita saling bermusuhan.

Dengan demikian, toleransi bagi kita merupakan persoalan basi, yang seharusnya tidak lagi menjadi sesuatu yang penting untuk dibahas. Seharusnya Indonesia sudah bisa melaju kencang dalam percepatan pembangunan di berbagai bidang, yang berimbas pada peningkatan kesejahteraan rakyat dan tidak terus menerus berkutat pada persoalan basi tentang toleransi.(**)

22°C

Medan, Sumatera Utara

Cloudy

Humidity: 95%

Wind: 11.27 km/h

  • 04 Jan 2019 29°C 21°C
  • 05 Jan 2019 31°C 21°C

Banner 468 x 60 px