Log in

Syawal dan Refleksi PascaRamadan


Ramadan sudah berlalu, bahkan lebaran juga sudah memasuki hari ketujuh. Kini, segenap umat Islam plus mereka yang tidak ikut berlebaran, telah kembali menjalani aktivitas sehari-hari seperti biasa setelah menjalani liburan yang lumayan panjang dan tradisi mudik yang menggembirakan sekaligus melelahkan (menguras dana, tenaga, dan pikiran).

Bagi umat Islam, kewajiban menjalankan ibadah puasa selama sebulan dalam setahun, antara lain bertujuan untuk meningkatkan keimanan dan ketakwaan. Melalui ibadah puasa diharapkan umat Islam mampu mengendalikan diri serta mengejawantah menjadi hambaNya yang muttaqin.

Karena itu pula setelah diberi tantangan dan ujian selama sebulan penuh menahan lapar dan dahaga serta berbagai godaan lainnya, mereka yang berpuasa dengan imanan wakhtisaban, selanjutnya diberi reward berupa hak untuk merayakan hari kemenangan pada 1 Syawal.

Umat Islam yang telah dinyatakan lulus dalam menghadapi berbagai tantangan di bulan Ramadan, seharusnya saat melanjutkan kehidupan sehari-hari di bulan Syawal dan bulan-bulan berikutnya, sudah mampu mewujud menjadi manusia dan pribadi yang lebih baik.

Misalnya semakin bisa mengendalikan diri dari godaan kehidupan dunia. Seorang pejabat publik seharusnya semakin arif wicaksono dan tidak lagi korupsi usai Ramadan. Begitu juga seorang istri yang rajin berpuasa dan melaksanakan qiyamul lail, seharusnya bisa lebih hormat dan menghargai suaminya.

Dengan kata lain, pascaRamadan hendaknya terdapat perubahan sikap dalam diri hamba Allah yang melaksanakannya. Perubahan sikap dimaksud sesuai dengan makna Syawal, yaitu peningkatan. Yakni, terjadi peningkatan secara kualitatif, dari sebelumnya kurang baik dan tidak rajin beribadah, menjadi lebih baik ditandai dengan semakin terpuji akhlaknya dan semakin khusyuk ibadahnya.

Di sisi lain, harus diakui pula bahwa berbagai kegaduhan dan pengotak-kotakan, yang terus melanda negeri kita dalam beberapa tahun belakangan ini, tidak bisa dilepaskan dari semakin menguatnya kecenderungan mencintai kehidupan dunia (hubbud-duniya) secara berlebihan.

Kecintaan berlebihan terhadap kesenangan serta kejayaan hidup di dunia, membuat banyak orang di seantero nusantara, terkesan tidak lagi memedulikan nilai-nilai moralitas, religiusitas dan legacy para foundhing fathers negeri ini. Bagi mereka apa pun seolah sah-sah saja untuk dilakukan, demi meraih kursi dan mempertahankan jabatan.

Nah, umat manusia yang percaya terhadap adanya keabadian hidup di akhirat kelak, seharusnya tidak ikut-ikutan menjelma menjadi sosok manusia yang hedonis, munafik, serakah, penjilat dan suka berkhianat. Ingatlah, pesta pasti akan berakhir dan masih akan ada kehidupan yang lebih hakiki kelak di akhirat.

Jadi, tidak sepatutnya kita menghalalkan segala cara dan tega memusuhi sesama anak bangsa sendiri, supaya tetap eksis dalam perburuan kejayaan di dunia yang sejatinya absurd. Harus senantiasa diingat dan disadari, bahwa kehidupan dunia hanyalah sementara dan seharusnya dapat dijadikan sebagai ladang persemaian benih kebaikan untuk dipanen kelak di akhirat. Allahu a'lam bisshawab... (**)

22°C

Medan, Sumatera Utara

Cloudy

Humidity: 95%

Wind: 11.27 km/h

  • 04 Jan 2019 29°C 21°C
  • 05 Jan 2019 31°C 21°C

Banner 468 x 60 px