Log in

Aparat Hukum Diminta Usut Hilangnya Pupuk Bantuan Pemerintah di Desa Lau Pakpak

Kantor Kepala Desa Lau Pakpak, Kecamatan Tigalingga, Kabupaten Dairi. Kantor Kepala Desa Lau Pakpak, Kecamatan Tigalingga, Kabupaten Dairi.

Sidikalang-andalas Sejumlah tokoh masyarakat Desa Lau Pakpak, Kecamatan Tigalingga, Kabupaten Dairi mendesak aparat penegak hukum segera mengusut tuntas dugaan hilangnya pupuk bantuan pemerintah untuk masyarakat petani di desa tersebut.

"Penegak hukum tak boleh diam, dugaan hilangnya pupuk bantuan pemerintah untuk masyarakat petani di Desa Lau Pakpak itu harus diusut tuntas, sehingga tidak menimbulkan prasangka buruk di masyarakat," kata J Sinaga, mantan kepala Desa Lau Pakpak tahun 1990-an kepada andalas, Selasa (14/5).

Seperti diketahui, masyarakat di Desa Lau Pakpak sedang ramai membicarakan isu yang menyebut-nyebut suami kepala desa (Kades) setempat diduga menjual pupuk bantuan pemerintah tahun 2017. Bantuan pupuk diperoleh dari Pemerintah Kabupate (Pemkab) Dairi melalui Dinas Pertanian.

Namun, ketika isu tersebut dikonfirasi kepada Sabmen Malau, suami Kades Lau Pakpak melalui telepon selulernya, dengan suara nada tinggi ia membantah isu tersebut. Ditanya pupuk tersebut dikemanakan, Sabmen Malau mengatakan pupuk tersebut hilang dari kantor kepala desa.

Sabmen Malau sempat menerangkan kronologi hilangnya pupuk tersebut. Menurutnya, saat pupuk bantuan Pemkab Dairi itu tiba sempat disimpan di kantor kepala desa, yang persis bersebelahan dengan rumah tempat tinggalnya. Namun dalam waktu singkat, kata Sabmen Malau, kantor kepala desa kebongkaran dan pupuk tersebut turut hilang.

Anehnya, Sabmen Malau mengakui, peristiwa hilangnya pupuk tersebut dari kantor kepala desa karena kebongkaran, pihaknya atau Kades Desa Lau Pakpak tidak ada membuat laporan kepada pihak kepolisian dan kepada Dinas Pertanian Kabupaten Dairi selaku pemberi bantuan.

Selain J Sinaga, desakan agar aparat penegak hukum mengusut tuntas raibnya pupuk bantuan pemeritah tersebut juga datang dari sejumlah anak rantau asal Desa Lau Pakpak yang tinggal di Pula Jawa dan daerah lainnya.

Bahkan, setelah pemberitaan harian adalas sebelumnya berjudul "Suami Kades Lau Pakpak Diduga Jual Pupuk Bantuan" beredar di media sosial, mereka memberi apresiasi dan meminta aparat penegak hukum melakukan pengusutan.

Sebab, menurut mereka, Desa Lau Pakpak merupakan desa tertinggal dan masyarakat yang umumnya hidup dari hasil petanian, masih sangat membutuhkan bantuan dari pemerintah. "Aparat hukum harus turun tangan mengungkap kejadian yang sebenarnya. Apakah pupuk itu hilang dari kantor desa karena kemalingan atau dijual oknum suami Kades, ini harus diungkap secara tuntas sehingga kita tahu yang sebenarnya terjadi," kata mereka.

Sebelumnya, Kepala Bidang Tanaman Pangan dan Holtikultura Dinas Pertanian Kabupaten Dairi Siska Tampubolon membenarkan adanya bantuan bibit mangga dan pupuk NPK kepada masyarakat petani di Desa Lau Pakpak pada tahun 2017. Batuan itu, katanya, diberikan atas permohonan Kades Lau Pakpak Erika Magdalena Sinaga.

Siska Tampubolon mengatakan, pihaknya tidak mengetahui jika bantuan khususnya pupuk hilang dari kantor Desa Lau Pakpak, sebagaimana pengakukan Sabmen Malau, suami Kades Lau Pakpak. Kades Lau Pakpak Erika Magdalena Sinaga, katanya, tidak ada melaporkan kajadian seperti itu.

Bahkan, Siska Tampubolon mengaku sudah menerima adminitrasi pertangungjawaban penyaluran batuan tersebut yang dibuat Kades Lau Pakpak, mulai dari permohonan, berita acara serah terima bantuan pupuk, dan berita acara penyalurannya kepada masyarakat petani.

"Saya tidak tahu kalau pupuk itu hilang dari kantor kepala desa karena laporanya tidak seperti itu. Malah adminitrasi pertangungjawaban penyaluran batuan tersebut sudah saya terima dari kepala Desa Lau Pakpak," ujar Siska Tampubolon.

Ketika andalas mengkonfirmasi Kepala Seksi Pupuk dan Pestisida Dinas Pertanian Kabupaten Dairi Eben Gurning juga membenarkan adanya adminitrasi pertangungjawaban penyaluran batuan pupuk tersebut dari kepala Desa Lau Pakpak.

Sayangnya, Eben Gurning tidak bersedia menunjukkan salinan adminitrasi pertangungjawaban penyaluran batuan pupuk tersebut, dengan dalih harus ada izin dari atasanya. "Kegiatan itu sudah di-SPJ-kan (surat pertanggungjawaban), tapi tidak bisa kita kasih tunjuk karena tak ada izin dari pimpinan," ujar Eben. (JM)

22°C

Medan, Sumatera Utara

Cloudy

Humidity: 95%

Wind: 11.27 km/h

  • 04 Jan 2019 29°C 21°C
  • 05 Jan 2019 31°C 21°C

Banner 468 x 60 px