Log in

Great Harvest Festival Sukses Hibur Masyarakat

Sejumlah turis asal Ceko ikut memperagakan "mardege" di acara Great Harvest Festival di Desa Jangga Dolok, Kecamatan Lumban Julu, Tobasa, Sabtu (20/7). Sejumlah turis asal Ceko ikut memperagakan "mardege" di acara Great Harvest Festival di Desa Jangga Dolok, Kecamatan Lumban Julu, Tobasa, Sabtu (20/7).

Tobasa-andalas Great Harvest Festival yang digelar di Desa Jangga Dolok, Kecamatan Lumban Julu, Kabupaten Toba Samosir (Tobasa) yang dirangkai dengan pangelaran budaya dan tradisi, berhasil menghibur dan mengundang simpati dan apresiasi dari masyarakat serta turis asal Republik Ceko, Sabtu (20/7).

Great Harvest Festival atau festival panen hebat diselenggarakan Kepala Desa Jangga Dolok Rahmat Manurung bersama masyarakatnya itu, dinilai menarik dan bisa menjadi salah satu event tahunan di Desa Jangga Dolok untuk mendukung perkembangan dan kemajuan pariwisata Kabupaten Tobasa.

Great Harvest Festival dirangkai dengan menampilkan tarian tortor dari Sanggar Jangga Toruan, tari cawan dari sanggar budaya, mossak dari muda-mudi dan "mardege" oleh petani.

Pada acara mardege (mengirik padi dengan cara menginjak-injak gabah agar biji padi terlepas dari tangkainya), semangat petani memperagakannya cukup tinggi. Turis yang menyaksikan, didorong rasa penasaran pun mencoba mardege.

Bupati Tobasa Darwin Siagian dalam kesempatan itu diminta juga memperagakan mardege. “Bupati ternyata masih ingat cara mardege," sahut seorang warga disambut tepuk tangan seluruh masyarakat.

Kapolres AKBP Agus Waluyo tak mau kalah dengan Bupati. Kapolres bersama dua orang pun petani "mamurpur eme" dengan memakai "raga dan jual". Menyaksikan itu masyarakat menyampaikan apresiasinya terhadap Kapolres.

Selain tortor, tari cawan, mossak dan mardege, pada Great Harvest Festival ditampilkan juga budaya “martumba” dibawakan anak-anak SD dan “martandang” model zaman dulu oleh orang dewasa.

Kedua pagelaran ini banyak mengundang tawa dan applause dari masyarakat khususnya yang berusia di atas 45 tahun, karena teringat kenangan dimasa kecil dan dimasa mudanya menyaksikan budaya “martumba” dan opera “martandang” yang ditampilkan. Terlebih disaat opera “martandang”, masyarakat tak bisa menahan tawa menyaksikan seorang “doli-doli” bernama Janggatua “manandangi paribannya” (putri pamannya) bernama Tiomata menjadi istrinya ala zaman dulu.

Sebelumnya ibu Janggatua sudah meminta Tiomata agar bersedia menjadi manantunya, dan diiyakan Tiomata dengan catatan harus bertemu dulu dengan Janggatua agar saling mengenal. Didasari jawaban itu, Janggatua disuruh ibunya “martandang” ke rumah pamannya untuk menemui Tiomata.

Namun Janggatua dan Tiomata tak bisa langsung ketemu empat mata. Tidak seperti sekarang laki-laki dan perempuan bisa langsung bertemu. Janggatua harus terlebih dahulu menyampaikan kata-katanya seperti berpantun dari luar rumah dan memperkenalkan siapa dirinya agar “paribannya” Tiomata mau membuka pintu rumahnya. “Martandang jaman dulu asyik rupanya, unik,” kata warga paru baya mengomentari opera martandang disertai gelak tawa. (EDU)

22°C

Medan, Sumatera Utara

Cloudy

Humidity: 95%

Wind: 11.27 km/h

  • 04 Jan 2019 29°C 21°C
  • 05 Jan 2019 31°C 21°C

Banner 468 x 60 px