Log in

Tuntut Tol Medan-Berastagi, Mahasiswa Asal Karo Gelar Aksi Rp1000

Mahasiswa Karo di Medan menggelar aksi gerakan Rp 1000 untuk Tol Medan-Berastagi di Fly Ofer Letjen Djamin Ginting, Medan. Mahasiswa Karo di Medan menggelar aksi gerakan Rp 1000 untuk Tol Medan-Berastagi di Fly Ofer Letjen Djamin Ginting, Medan.

Kabanjahe-andalas Dukungan wacana pembangunan tol (bebas hambatan) Medan-Berastagi semakin deras dan terus mengalir dari berbagai kalangan. Selasa (20/8), mahasiswa asal Kabupaten Karo yang kuliah di Kota Medan turun ke jalan dengan gerakan “Rp 1000 Untuk Tol Medan-Berastagi”.

Aksi mahasiswa itu bukan tanpa alasan dan sebab yang kuat. Sebelumnya Pemkab Karo, Dairi serta Pakpak Barat didukung Komisi D DPRD Sumut dan Ikatan Cendikiawan Karo Sumatera Utara yang sudah bolak balik ke Kementerian PUPR dan DPR RI.

Demikian juga, puluhan massa yang mengatasnamakan dirinya “Jambur Pergerakan Sienterem” khusus datang dari Kabupaten Karo, sudah menggelar aksi damai di depan istana negara, Jalan Medan Merdeka Utara, Jakarta Pusat, belum lama ini, menuntut Tol Medan-Berastagi direalisasikan tahun 2020 oleh Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR).

Kemacetan parah yang kerap terjadi sudah menimbulkan keresahan dan kerugian yang luar biasa besar baik secara sosial, politik dan ekonomi apalagi untuk kebutuhan darurat masyarakat. Dari aksi mahasiswa tersebut tersimpul sebuah pesan, bahwa Jalan Medan-Berastagi, produk kolonial tersebut, tak banyak mengalami perubahan setelah 74 tahun Indonesia merdeka.

Pengamat sosial yang juga akademisi USU, Drs Wara Sinuhaji MHum, saat bincang-bincang dengan andalas, Rabu (21/8), mengapresiasi Gerakan Mahasiswa Karo dengan aksi seribu rupiah sebagai bentuk protes sosial atas kebijakan pemerintah yang semula sudah menyetujui dua jalan layang, antara Sembahe-Berastagi, untuk mengurai kemacetan. Tetapi perencanaan yang sudah final, tiba tiba dibatalkan dan diganti dengan alternatif  lain, dengan alasan dana yang tidak memadai.

“Jujur saya ungkapkan, pertumbuhan berbagai jenis moda transportasi begitu pesat, tidak seimbang dengan pertambahan ruas jalan raya, menyebabkan jalur Medan – Kabanjahe rawan menjadi macet, ditambah ketidak displinan pengemudi kenderaan bermotor saling korelasi menambah kemacetan itu,” jelasnya.

Wara Sinuhaji memaparkan, bertahun tahun masalah kemacetan ini, gaungnya sudah kita wacanakan, tetapi pemerintah terlihat bebal, tidak mau tau. “Berbagai pemikiran sudah kita sampaikan, berbagai kalangan sudah berteriak menyampaikan bagaimana parahnya setiap terjadi kemacetan yang sudah menimbulkan efek dahsyat terhadap distibusi perekonomian,” ungkapnya.

“Tidak harus jalan tol, tetapi paling tidak, pemerintah harusnya mengembangkan jalan alternatif lain, atau mencarikan solusi konkret mengatasi kemacetan akut yang sering terjadi, sebenarnya tanpa diminta rakyatpun, sudah menjadi kewajiban negara memberikan fasilitas infrastruktur jalan yang bagus, nyaman dan aman bagi rakyatnya,” lontarnya.

Banyak mengatakan kalau dibangun jalan tol akan merusak lingkungan, hutan akan ditrabas. "Jujur saya katakan, menjelang masuk abad ke dua puluh ketika jalan raya ini dibuka Belanda, pernahkah mereka berpikir merusak lingkungan pegunungan hutan Bukit Barisan tersebut? Sebaliknya, kitalah di alam kemerdekaan ini merusak hutan tersebut." kata Wara Sinuhaji.

Lebih jauh Wara Sinuhaji, menjelaskan, anak-anak muda Karo itu memang militan, kalu kita tilik sejarahnya, Karo, ya memang etnis bermental pejuang. Apa yang mereka kerjakan, sadar sesadarnya jalan negara Medan-Berastagi itu bukan hanya dibutuhkan oleh mereka. Rakyat dari Simalungun, Dairi dan Pakpak Barat, juga Kabupaten Samosir dan Humbang, juga melintasi jalur ekonomi ini menuju Medan, demikian juga sebaliknya.

Selain itu, jalan darat ini juga menjadi alternatif penghubung bagi Manduamas dan Barus di kawasan Kabupaten Tapanuli Tengah. Juga sejak jaman Belanda jalur jalan nasional ini sangat urgen bagi kehidupan ekonomi Kabupaten Aceh Tenggara dan Takengon.

"Demikian juga, semua kabupaten yang berada di bahagian Selatan Aceh, geliat dan orientasi ekonominya dari dulu semua ke Medan, dan bukan ke Banda Aceh, tapi lewat jalur ini," tegas Wara yang dikenal vokal ini.

Harus diingat, sambung Wara Sinuhaji, ini bukan semata mata sesuatu yang urgen hanya buat Kabupaten Karo. “Kita memang harus objektif juga, kenapa hanya Bupati Karo dan Dairi yang efektif melakukan lobi ke pusat. Mana atensi Gubernur Sumatera Utara dan bupati-bupati lain? Bukankah Gubernur itu perwakilan pemerintah pusat di Provinsi? Bukankah beliau seharusnya mengayomi para bupati agar saling bersinegis satu sama lain mendukung rencana ini. Gubsu harusnya juga mendengar suara rakyat daerahnya," tandasnya.

Sebagai pintu gerbang Kawasan Strategis Pariwisata Nasional (KSPN) Danau Toba bagian utara jalur Medan-Kabupaten Karo,  tidak memiliki daya saing dan semakin jauh tertinggal.

“Solusinya, peningkatan jalan Medan-Berastagi, tol atau pembangunan jembatan layang mutlak direalisasikan dan semakin urgen dipacu untuk meningkatkan daya saing sejumlah daerah bagian utara KSPN Danau Toba,” tutup Wara Sinuhaji. (RTA)

22°C

Medan, Sumatera Utara

Cloudy

Humidity: 95%

Wind: 11.27 km/h

  • 04 Jan 2019 29°C 21°C
  • 05 Jan 2019 31°C 21°C

Banner 468 x 60 px