Log in

Terdakwa Pembunuh Dituntut 2,5 Tahun, Keluarga Korban Beber Kejanggalan

  Istri korban pembunuhan bersama anaknya Istri korban pembunuhan bersama anaknya

Medan-andalas Keluarga korban pembunuhan Abadi Bangun, mengaku tidak pernah mendapat informasi dari pihak Jaksa Penuntut Umum (JPU) dari awal sidang bergulir di Pengadilan Negeri (PN) Medan hingga saat ini.

Informasi soal sidang kasus pembunuhan Abadi Bangun diketahui pihak keluarga melalui penyidik Polrestabes Medan karena JPU membutuhkan katerangan saksi. Kalau dari awal kami dikasi tahu proses persidangan, kami pasti sudah melawan sejak awal. Ini tidak, sepucuk surat pun tidak ada kami terima dari pihak JPU.

Tiba-tiba sudah berlangsung saja sidang. Kami dapat informasi soal sidang itu karena menghubungi juper (penyidik) Polrestabes Medan terus-menerus, kalau dari JPU tidak ada sama sekali.

"Dari situlah baru kami mulai mengikuti sidang, mencari informasi sendiri, berjalan sendiri," kata istri korban, Eva Boru Sihombing saat ditemui di kediamannya Jalan Bahagia, Gang Budi Utomo, Medan Baru, kemarin.

Anehnya, lanjut dia, di sidang peledoi (pembelaan) yang perdana dihadiri pihak keluarga korban, Selasa 13 Oktober 2020 kemarin. JPU tidak ada mencecar ketiga terdawka seperti layaknya pembunuh di dalam sebuah persidangan online yang digelar Pengadilan Negeri Medan.

Dia malah melihat ketiga terdakwa (yang tidak dihadirkan dalam sidang) seperti seorang 'dewa' yang harus dilindungi saat berjalannya proses sidang pledoi tersebut. Kemudian yang paling mengejutkan, tiba-tiba usulan vonis bebas pun dilontarkan kuasa hukum ke-tiga terdakwa kepada majelis hakim.

"Ujung-ujungnya kuasa hukum minta ketiga terdakwa dibebaskan. Berarti dari situ kita sudah mengetahui bagaimana proses persidangan itu berjalan. Kami pihak keluarga tidak mau menduga-duga dalam hal ini. Tapi ini jelas sangat janggal, sangat penuh dengan tanda tanya. Hukum di Pengadilan Negeri Medan ini memang benar-benar tidak adil untuk orang miskin," sebutnya.

Dia menegaskan, dalam persidangan yang dihadiri, pihak JPU maupun majelis hakim tidak menyinggung soal kamera CCTV dan sakit suaminya yang sedang stroke.
"Jika itu benar, semoga Tuhan membalas mereka. Kami selaku keluarga korban akan terus berusaha untuk melawan ketidak adilan ini," pungkasnya dengan uraian air mata.

Terpisah, Jaksa Agung Muda dan Pengawasan (Jamwas) Amir Yanto ketika dikonfirmasi wartawan soal kasus tersebut mengaku Jamwas tidak memiliki wewenang untuk menangani soal tuntutan. Sebab, kata dia, itu adalah bidang teknis, dilakukan eksaminasi oleh pidum. "Kalau ada perbuatan disiplin atau perbuatan tercela baru ditangani oleh Jamwas," tandasnya.

Sebelumnya, praktisi hukum Sumatera Utara, Muslim Muis menilai jika tuntutan 2,5 tahun yang dibacakan Jaksa Penuntut Umum (JPU) Pengadilan Negri (PN) Medan kepada 3 terdakwa pembunuhan terhadap Abadi Bangun (korban-red) adalah sebuah kekeliruan.

Dia menilai, tuntutan itu adalah bentuk kezoliman kepada korban dan keluarga korban. Ada tiga terdawa dalam kasus pembunuhan ini uang dituntut rendah, Mahyudi bersama dua karyawannya, Mursalin (32) dan Agus Salim (32).

Para pelaku mengeksekusi korban di depan Mie Aceh Delicious Cafe (milik pelaku) di Jalan Pasar Baru Kelurahan Titi Rante, Kecamatan Medan Baru pada Januari 2020 lalu.(DA)

22°C

Medan, Sumatera Utara

Cloudy

Humidity: 95%

Wind: 11.27 km/h

  • 04 Jan 2019 29°C 21°C
  • 05 Jan 2019 31°C 21°C